Hubungan antara Psikologi dan Agama
Posted by admin
on
Selasa, 28 Desember 2010
, under |
komentar (0)
Deborah Van Deusen Hunsinger berbicara tentang hubungan antara psikoanalisis dan agama:
“Psikologi kedalaman (depth psychology) dan pemahaman tentang jiwa-tak-sadar juga memberikan kepada kita alat konseptual untuk memahami peristiwa yang tidak bisa dipahami dengan kerangka teologis, tetapi mempengaruhi kehidupan iman secara dramatis.”
Ia mencontohkan kisah perempuan yang dikira kemasukan setan karena mengaku dan meyakini dirinya mendengar suara-suara gaib dan mengandung Isaac, anak yang dijanjikan. Maka dilakukan ritual mengusir setan berkali-kali tapi tak berhasil. Lantas psikolog didatangkan dan mendalami akar-akar psikologis dari peristiwa tersebut. Dan diketahui bahwa si perempuan pernah tujuh kali menggugurkan kandungannya karena didiagnosis secara medis janinnya berkelamin perempuan oleh desakan keluarga suami yang memegang kultur bahwa semua hal bergantung pada kaum laki-laki. Simpulannya, si perempuan tengah menderita depresi, kemarahan, kesedihan akut yang terus disembunyikan hingga akhirnya hal itu tak tertahankan lagi dan mencuat dalam bentuk gejala psikis yang sangat ekstrim.
Untuk terapi pasien yang menderita kelainan psikis, “intervensi spiritual” bisa jadi dilakukan. Pada ruang hidup inilah (yaitu penderitaan), psikologi dan agama berintegrasi.
Bagi kebanyakan para psikolog ateis, perilaku manusia dijelaskan secara naturalistis. Artinya, menghindari penjelasan spiritual dan transendental. Bagi Freud, daya bawah sadar manusia adalah dorongan seksual (psikoseksual), bukan mata air spiritual sebagaimana pikiran Jung. Watson berpendapat bahwa proses jiwa di dalam jangan dihiraukan, fokusnya harus pada pengukuran antara stimulus yang masuk (input) dan respon yang keluar (output). Skinner, Hull, Bandura dan Rogers tampaknya mengambil jalan pemuka psikoanalisis dan behaviorisme tersebut.
Charles Tart berbicara tentang kehausan spiritual di tengah modernitas dan kemajuan sains: “Begitu banyak di antara kita yang kaya –tetapi kita masih juga tak puas.”
Orang-orang ini sebenarnya menderita sindrom yang disebut “existential neurosis“, ketidakbahagiaan (ketidaktenteraman) yang bersumber pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna.
Dalam psikologi humanistis: kreativitas, vitalitas emosi, autentisitas, dan pencarian makna di atas kepuasan materi adalah hal-hal yang menjadi topik utama. Tetapi, aliran ini masih saja menyiratkan pandangan bahwa pikiran, emosi, dan tubuh semuanya dapat direduksi dan disamakan dengan reaksi materi yang bersifat fisik dan karenanya dibatasi olehnya. Dimensi keempat manusia, yaitu “ruh”, tampaknya masih terabaikan disini. Psikologi transpersonal menemukan relevansinya untuk mengembangkan aspek keempat tersebut.
Psikologi Humanistis
Bersamaan dengan psikologi eksistensialis, muncul sekitar tahun 60-an membentuk angkatan ketiga dalam psikologi. Angkatan pertama adalah psikoanalisis yang muncul di Jerman. Angkatan kedua behaviorisme yang muncul di Amerika.
Ada juga yang menyebut bahwa angkatan ketiga adalah psikologi kognitif yang juga lahir di Amerika ketika rakyat kelas menengahnya bergelimang kemakmuran materi dan menderita dahaga spiritual yang akut.
Kekosongan itu menurut Maslow adalah sebab kekosongan nilai (valuelessness). Tak ada lagi yang dikagumi, dirindukan atau diperjuangkan yang demi hal itu seseorang bisa mempersembahkan hidup dan matinya (to live or to die for). Sekalipun manusia ketika itu tidak lagi hidup bersandar nilai-nilai luhur, kerinduan akan hal tersebut tetap saja hidup. Kemana nilai luhur dicari ? Jelas bukan pada sains modern. Kata Maslow, sains menjadi busuk ketika mencampakkan nilai. Karena sains yang netral-nilai bisa menjadi alat yang dapat digunakan oleh siapapun dan untuk tujuan apapun.
Behaviorisme telah mengorbankan manusia pada belas kasih lingkungan sebagai produk hubungan stimulus-respon, atau yang bertumpu pada pengalaman obyektif dan menolak pengalaman subyektif. Psikoanalisis juga menganggap nilai-nilai tinggi dalam kehidupan ini hanyalah topeng untuk menutupi kebutuhan naluriah yang rendah dan karenanya nihilistik. Maslow berpandangan bahwa psikologi sekarang harus melihat kehidupan spiritual sebagai komponen pokok kehidupan biologis kita. Tegasnya, manusia adalah produk dan resultan dari kerinduan untuk mengaktualisasikan diri dalam bingkai nilai yang diperjuangkannya.
Psikologi Eksistensialis
Psikologi ini mulai menanggalkan metode positivistis dengan mengambil fenomenologi sebagai alatnya. Carl Rogers bahkan memandang bahwa fenomenologi (yang percaya bahwa apa yang dilakukan manusia adalah buah dari refleksi pengalaman subyektifnya terhadap dunia dan diri sendiri) sebagai otoritas terakhir dalam kehidupan, bukan kitab suci, nabi, riset atau lainnya.
Beda dengan Rogers yang cenderung ateis, Victor Frankl memandang bahwa dengan fenomenologi manusia menemukan dimensi eksistensialis yang khas baginya. Dimensi yang disebutnya dimensi noologis atau noetik itu tidak saja melampaui (transcend) tetapi juga mencakup dimensi ragawi dan naluri dimana psikologi Freud berkubang. Dimensi noologis itu adalah keinginan manusia untuk mencari makna. Frankl berpendapat: Orang-orang yang yang punya tujuan atau makna dalam hidupnya dapat bertahan dan berkembang bahkan pada situasi yang paling mengerikan sekalipun. Sebaliknya, orang-orang yang tidak menemukan makna dalam hidupnya dengan cepat melemah, roboh, dan mati karena apati dan putus asa.
Bagi Frankl, agama adalah sebuah fenomena noologis, pencarian makna terakhir (search for ultimate meaning). Sekalipun obyek kepercayaan agama tak akan tertangkap psikologi, ia masih bisa mengkaji aspek manusiawi dari fenomena manusia. Bahkan Frankl menegaskan, karena setiap manusia mencari makna, secara fitrah tiap manusia itu beragama.
Ada “religious sense” tertanan dalam-dalam di “unconscious depths”. Dan rasa beragama ini tidak akan dapat dihilangkan baik oleh psikosis atau penjara.
Soren Kierkegaard melihat, ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup yang tak berhingga manusia mengalamai kecemasan (anxiety). Ia bisa saja menolak pilihan dan menjadi budak dari kebutuhan kehidupan hingga gagal menjadi diri yang otentik. Kegagalan inilah yang disebutnya sebagai keputusasaan (despair). Menurutnya, manusia tidak boleh menyerah terhadap pilihan, ia harus punya rujukan, dan rujukan sejati itu menurutnya adalah Tuhan. Ia mengilustrasikan tahapan perjalanan menemukan diri sejati itu dalam tiga tahap: estetik, etik dan religius.
Psikologi Transpersonal
Ken Wilber melihat bahwa psikologi, psikoterapi, filsafat dan tradisi spiritual tidak perlu bersaing dan saling menyingkirkan. Kita harus bisa melihat semuanya berada dalam spektrum kesadaran dan pengalaman yang berbeda.
Menurutnya, manusia bergerak dari tahap prapersonal ke personal lantas transpersonal. Pada tiap tahap yang baru manusia senantiasa mengintegrasikan ciri-ciri “kepribadian” tahap sebelumnya. Untuk kasus sains dan agama, sudah tiba saatnya keduanya untuk berinterasi.
Tokoh yang juga tak bisa diabaikan dalam pendirian aliran ini adalah Anthony Suttich, Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Victor Frankl yang dari pertemuan mereka istilah transpersonal ini lahir.
Empat asumsi dasar dari psikologi ini adalah:
(1) pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spectrum identitas: prapersonal, personal, dan transpersonal;
(2) mengakui terurainya kesadaran diri terapis serta pandangan dunia spiritualnya sebagai hal yang utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi;
(3) kebangkitan (awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar;
(4) membantu proses kebangkitan dengan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri. Hal ini mengantar pada apa yang sekarang lazim dikenal sebagai intervensi spiritual dalam psikoterapi.
Maka, sekarang, psikolog tampaknya harus mengerti agama dan agamawan harus belajar psikologi.
Posmodernisme
Ken Wilber memberi catatan tentang hubungan sains dan agama dalam bentuk 5 situasi:
(1) Sains menolak keabsahan agama. Kaum positivis dan empiris menjadi pendukung utamanya: Comte, Freud, Marx, Bertrand Russel. Bagi mereka, agama patologi bagi kepribadian yang dewasa;
(2) Agama menolak keabsahan sains. Bentuk reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas yang mencemoohkan agama sebagai fantasi anak-anak;
(3) Sains hanyalah salah satu diantara beberapa cara mengetahui yang abash, dan karenanya keduanya bisa berkoeksistensi secara damai. Mistikus Kristen seperti St. Bonaventure dan Hugh dari St. Victor pernah menjelaskan 3 macam mata: eye of flesh (yang beri pengetahuan empiris / sains), eye of mind (yang beri pengetahuan rasional: logika dan matematika), dan eye of contemplation (yang beri pengetahuan ruhaniah / gnosis). Argument ini biasa disebut pluralisme epistemologis. Wilber menyatakan: mata daging bersifat monologis, mata jiwa bersifat dialogis, dan mata kontemplatif bersifat translogis;
(4) Sains menawarkan “plausibility arguments” tentang eksistensi ruh (spirit). Sebagai variasi pluralisme epistemologis, ketika sains sampai pada rahasia terdalam dunia fisik, mereka menemukan fakta dan data yang tampaknya menuntut perlunya mengikutsertakan Maha-intelegensi yang berada di luar wilayah material. Dalam bahasa Sir James Jeans, “in the mind of some eternal Spirits“;
(5) Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu dari segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. Inilah yang menurut Wilber esensi dari posmodernisme. Dunia baginya tidak dipersepsi, tetapi hanya ditafsirkan. Berbagai penafsiran sama-sama absah untuk memahami dunia. Sains tidak menawarkan “kebenaran”, tetapi hanya prasangka favorit yang dipaksakan secara sewenang-wenang. Klaim sains dan agama sama-sama dihancurkan, manusia dilemparkan dalam jurang relativisme.
Bentuk-bentuk Interaksi Psikologi dan Agama
Jones menyebut 3 model interaksi psikologi dan agama:
(1) Kritis-evaluatis. Teori-teori psikologi dikaji secara kritis apakah tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Jadi, psikologi diletakkan di bawah mikroskop agama;
(2) Konstruktif. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru, membentuk persepsi baru tentang data dan teori. Ajaran agama tidak menjadi sumber data untuk mengevaluasi teori, tetapi menjadi “kacamata” yang mempengaruhi apa yang kita lihat sebagai data atau yang kita rumuskan sebagai teori;
(3) Dialogis dan dialektis. Disini, psikologi tidak memaksa agama mengikuti jalan yang dikehendakinya, sebaliknya agama tidak memaksa sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu psikologi memberi perspektif yang berbeda. Psikologi harus membantu agama melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris.
Jones menyatakan: “Kesediaan dialogis dengan agama menyiratkan kesediaan ilmuwan dan professional untuk mendalami teologi dan filsafat. Serta kesediaan teolog dan filosof untuk mendalami sains dan memahami profesi”.
“Psikologi kedalaman (depth psychology) dan pemahaman tentang jiwa-tak-sadar juga memberikan kepada kita alat konseptual untuk memahami peristiwa yang tidak bisa dipahami dengan kerangka teologis, tetapi mempengaruhi kehidupan iman secara dramatis.”
Ia mencontohkan kisah perempuan yang dikira kemasukan setan karena mengaku dan meyakini dirinya mendengar suara-suara gaib dan mengandung Isaac, anak yang dijanjikan. Maka dilakukan ritual mengusir setan berkali-kali tapi tak berhasil. Lantas psikolog didatangkan dan mendalami akar-akar psikologis dari peristiwa tersebut. Dan diketahui bahwa si perempuan pernah tujuh kali menggugurkan kandungannya karena didiagnosis secara medis janinnya berkelamin perempuan oleh desakan keluarga suami yang memegang kultur bahwa semua hal bergantung pada kaum laki-laki. Simpulannya, si perempuan tengah menderita depresi, kemarahan, kesedihan akut yang terus disembunyikan hingga akhirnya hal itu tak tertahankan lagi dan mencuat dalam bentuk gejala psikis yang sangat ekstrim.
Untuk terapi pasien yang menderita kelainan psikis, “intervensi spiritual” bisa jadi dilakukan. Pada ruang hidup inilah (yaitu penderitaan), psikologi dan agama berintegrasi.
Bagi kebanyakan para psikolog ateis, perilaku manusia dijelaskan secara naturalistis. Artinya, menghindari penjelasan spiritual dan transendental. Bagi Freud, daya bawah sadar manusia adalah dorongan seksual (psikoseksual), bukan mata air spiritual sebagaimana pikiran Jung. Watson berpendapat bahwa proses jiwa di dalam jangan dihiraukan, fokusnya harus pada pengukuran antara stimulus yang masuk (input) dan respon yang keluar (output). Skinner, Hull, Bandura dan Rogers tampaknya mengambil jalan pemuka psikoanalisis dan behaviorisme tersebut.
Charles Tart berbicara tentang kehausan spiritual di tengah modernitas dan kemajuan sains: “Begitu banyak di antara kita yang kaya –tetapi kita masih juga tak puas.”
Orang-orang ini sebenarnya menderita sindrom yang disebut “existential neurosis“, ketidakbahagiaan (ketidaktenteraman) yang bersumber pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna.
Dalam psikologi humanistis: kreativitas, vitalitas emosi, autentisitas, dan pencarian makna di atas kepuasan materi adalah hal-hal yang menjadi topik utama. Tetapi, aliran ini masih saja menyiratkan pandangan bahwa pikiran, emosi, dan tubuh semuanya dapat direduksi dan disamakan dengan reaksi materi yang bersifat fisik dan karenanya dibatasi olehnya. Dimensi keempat manusia, yaitu “ruh”, tampaknya masih terabaikan disini. Psikologi transpersonal menemukan relevansinya untuk mengembangkan aspek keempat tersebut.
Psikologi Humanistis
Bersamaan dengan psikologi eksistensialis, muncul sekitar tahun 60-an membentuk angkatan ketiga dalam psikologi. Angkatan pertama adalah psikoanalisis yang muncul di Jerman. Angkatan kedua behaviorisme yang muncul di Amerika.
Ada juga yang menyebut bahwa angkatan ketiga adalah psikologi kognitif yang juga lahir di Amerika ketika rakyat kelas menengahnya bergelimang kemakmuran materi dan menderita dahaga spiritual yang akut.
Kekosongan itu menurut Maslow adalah sebab kekosongan nilai (valuelessness). Tak ada lagi yang dikagumi, dirindukan atau diperjuangkan yang demi hal itu seseorang bisa mempersembahkan hidup dan matinya (to live or to die for). Sekalipun manusia ketika itu tidak lagi hidup bersandar nilai-nilai luhur, kerinduan akan hal tersebut tetap saja hidup. Kemana nilai luhur dicari ? Jelas bukan pada sains modern. Kata Maslow, sains menjadi busuk ketika mencampakkan nilai. Karena sains yang netral-nilai bisa menjadi alat yang dapat digunakan oleh siapapun dan untuk tujuan apapun.
Behaviorisme telah mengorbankan manusia pada belas kasih lingkungan sebagai produk hubungan stimulus-respon, atau yang bertumpu pada pengalaman obyektif dan menolak pengalaman subyektif. Psikoanalisis juga menganggap nilai-nilai tinggi dalam kehidupan ini hanyalah topeng untuk menutupi kebutuhan naluriah yang rendah dan karenanya nihilistik. Maslow berpandangan bahwa psikologi sekarang harus melihat kehidupan spiritual sebagai komponen pokok kehidupan biologis kita. Tegasnya, manusia adalah produk dan resultan dari kerinduan untuk mengaktualisasikan diri dalam bingkai nilai yang diperjuangkannya.
Psikologi Eksistensialis
Psikologi ini mulai menanggalkan metode positivistis dengan mengambil fenomenologi sebagai alatnya. Carl Rogers bahkan memandang bahwa fenomenologi (yang percaya bahwa apa yang dilakukan manusia adalah buah dari refleksi pengalaman subyektifnya terhadap dunia dan diri sendiri) sebagai otoritas terakhir dalam kehidupan, bukan kitab suci, nabi, riset atau lainnya.
Beda dengan Rogers yang cenderung ateis, Victor Frankl memandang bahwa dengan fenomenologi manusia menemukan dimensi eksistensialis yang khas baginya. Dimensi yang disebutnya dimensi noologis atau noetik itu tidak saja melampaui (transcend) tetapi juga mencakup dimensi ragawi dan naluri dimana psikologi Freud berkubang. Dimensi noologis itu adalah keinginan manusia untuk mencari makna. Frankl berpendapat: Orang-orang yang yang punya tujuan atau makna dalam hidupnya dapat bertahan dan berkembang bahkan pada situasi yang paling mengerikan sekalipun. Sebaliknya, orang-orang yang tidak menemukan makna dalam hidupnya dengan cepat melemah, roboh, dan mati karena apati dan putus asa.
Bagi Frankl, agama adalah sebuah fenomena noologis, pencarian makna terakhir (search for ultimate meaning). Sekalipun obyek kepercayaan agama tak akan tertangkap psikologi, ia masih bisa mengkaji aspek manusiawi dari fenomena manusia. Bahkan Frankl menegaskan, karena setiap manusia mencari makna, secara fitrah tiap manusia itu beragama.
Ada “religious sense” tertanan dalam-dalam di “unconscious depths”. Dan rasa beragama ini tidak akan dapat dihilangkan baik oleh psikosis atau penjara.
Soren Kierkegaard melihat, ketika berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup yang tak berhingga manusia mengalamai kecemasan (anxiety). Ia bisa saja menolak pilihan dan menjadi budak dari kebutuhan kehidupan hingga gagal menjadi diri yang otentik. Kegagalan inilah yang disebutnya sebagai keputusasaan (despair). Menurutnya, manusia tidak boleh menyerah terhadap pilihan, ia harus punya rujukan, dan rujukan sejati itu menurutnya adalah Tuhan. Ia mengilustrasikan tahapan perjalanan menemukan diri sejati itu dalam tiga tahap: estetik, etik dan religius.
Psikologi Transpersonal
Ken Wilber melihat bahwa psikologi, psikoterapi, filsafat dan tradisi spiritual tidak perlu bersaing dan saling menyingkirkan. Kita harus bisa melihat semuanya berada dalam spektrum kesadaran dan pengalaman yang berbeda.
Menurutnya, manusia bergerak dari tahap prapersonal ke personal lantas transpersonal. Pada tiap tahap yang baru manusia senantiasa mengintegrasikan ciri-ciri “kepribadian” tahap sebelumnya. Untuk kasus sains dan agama, sudah tiba saatnya keduanya untuk berinterasi.
Tokoh yang juga tak bisa diabaikan dalam pendirian aliran ini adalah Anthony Suttich, Abraham Maslow, Stanislav Grof, dan Victor Frankl yang dari pertemuan mereka istilah transpersonal ini lahir.
Empat asumsi dasar dari psikologi ini adalah:
(1) pendekatan kepada penyembuhan dan pertumbuhan yang menyentuh semua tingkat spectrum identitas: prapersonal, personal, dan transpersonal;
(2) mengakui terurainya kesadaran diri terapis serta pandangan dunia spiritualnya sebagai hal yang utama dalam membentuk sifat proses dan hasil terapi;
(3) kebangkitan (awakening) dari identitas kecil menuju identitas yang lebih besar;
(4) membantu proses kebangkitan dengan teknik-teknik yang mempertajam intuisi dan memperdalam kesadaran personal dan transpersonal tentang diri. Hal ini mengantar pada apa yang sekarang lazim dikenal sebagai intervensi spiritual dalam psikoterapi.
Maka, sekarang, psikolog tampaknya harus mengerti agama dan agamawan harus belajar psikologi.
Posmodernisme
Ken Wilber memberi catatan tentang hubungan sains dan agama dalam bentuk 5 situasi:
(1) Sains menolak keabsahan agama. Kaum positivis dan empiris menjadi pendukung utamanya: Comte, Freud, Marx, Bertrand Russel. Bagi mereka, agama patologi bagi kepribadian yang dewasa;
(2) Agama menolak keabsahan sains. Bentuk reaksi kaum fundamentalis terhadap modernitas yang mencemoohkan agama sebagai fantasi anak-anak;
(3) Sains hanyalah salah satu diantara beberapa cara mengetahui yang abash, dan karenanya keduanya bisa berkoeksistensi secara damai. Mistikus Kristen seperti St. Bonaventure dan Hugh dari St. Victor pernah menjelaskan 3 macam mata: eye of flesh (yang beri pengetahuan empiris / sains), eye of mind (yang beri pengetahuan rasional: logika dan matematika), dan eye of contemplation (yang beri pengetahuan ruhaniah / gnosis). Argument ini biasa disebut pluralisme epistemologis. Wilber menyatakan: mata daging bersifat monologis, mata jiwa bersifat dialogis, dan mata kontemplatif bersifat translogis;
(4) Sains menawarkan “plausibility arguments” tentang eksistensi ruh (spirit). Sebagai variasi pluralisme epistemologis, ketika sains sampai pada rahasia terdalam dunia fisik, mereka menemukan fakta dan data yang tampaknya menuntut perlunya mengikutsertakan Maha-intelegensi yang berada di luar wilayah material. Dalam bahasa Sir James Jeans, “in the mind of some eternal Spirits“;
(5) Sains itu sendiri bukanlah pengetahuan tentang dunia, tetapi hanyalah penafsiran tentang dunia, dan karena itu dari segi keabsahan, sains tidak lebih dan tidak kurang dari puisi dan seni. Inilah yang menurut Wilber esensi dari posmodernisme. Dunia baginya tidak dipersepsi, tetapi hanya ditafsirkan. Berbagai penafsiran sama-sama absah untuk memahami dunia. Sains tidak menawarkan “kebenaran”, tetapi hanya prasangka favorit yang dipaksakan secara sewenang-wenang. Klaim sains dan agama sama-sama dihancurkan, manusia dilemparkan dalam jurang relativisme.
Bentuk-bentuk Interaksi Psikologi dan Agama
Jones menyebut 3 model interaksi psikologi dan agama:
(1) Kritis-evaluatis. Teori-teori psikologi dikaji secara kritis apakah tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Jadi, psikologi diletakkan di bawah mikroskop agama;
(2) Konstruktif. Agama membantu psikolog untuk melihat dunia dengan cara yang baru, membentuk persepsi baru tentang data dan teori. Ajaran agama tidak menjadi sumber data untuk mengevaluasi teori, tetapi menjadi “kacamata” yang mempengaruhi apa yang kita lihat sebagai data atau yang kita rumuskan sebagai teori;
(3) Dialogis dan dialektis. Disini, psikologi tidak memaksa agama mengikuti jalan yang dikehendakinya, sebaliknya agama tidak memaksa sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu psikologi memberi perspektif yang berbeda. Psikologi harus membantu agama melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris.
Jones menyatakan: “Kesediaan dialogis dengan agama menyiratkan kesediaan ilmuwan dan professional untuk mendalami teologi dan filsafat. Serta kesediaan teolog dan filosof untuk mendalami sains dan memahami profesi”.
Referensi :
Theology and Pastoral Counseling: A New Interdisciplinary Approach. By Deborah Van Deusen Hunsinger. Grand Rapids, Michigan, William B. Eerdmans Publishing Company, 1995. Pp. xiv + 242.
Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan, 2003.
Source : Psikologi dan Agama
Theology and Pastoral Counseling: A New Interdisciplinary Approach. By Deborah Van Deusen Hunsinger. Grand Rapids, Michigan, William B. Eerdmans Publishing Company, 1995. Pp. xiv + 242.
Jalaluddin Rakhmat. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung: Mizan, 2003.
Source : Psikologi dan Agama
Hilangnya Makna Natal
Posted by admin
on
Senin, 20 Desember 2010
, under |
komentar (0)
Saat ini tidak dapat dipungkiri di banyak tempat dan di banyak hati, Natal mulai tergerus maknanya sehingga nyaris hilang sama sekali. Natal sekedar menjadi sebuah acara peringatan peristiwa masa lalu. Dengan berbagai kisah indah dan adegan dramatis di baliknya. Ibarat musim, Natal satu datang, Natal lain berlalu. Cuma singgah sejenak, tidak membekas, apalagi berkesan. Memang ada yang membedakan saat Natal dan saat “bukan Natal”; aktivitas acara gereja, kesibukan ini-itu di rumah. Suasana pun lebih semarak. Ada pohon Natal yang gemerlap, sinetron/ film Natal, Penyanyi, dalam dan luar negeri, berlomba-lomba mengeluarkan album Natal......
Namun setelah itu, apa yang tersisa setelah hiruk-pikuk itu? Selain lelah fisik, karena harus mondar-mandir ikut perayaan Natal. Capek hati, karena harus bersitegang dengan orang-orang, entah sesama panitia Natal, entah dengan Majelis Jemaat, entah juga dengan teman sekerja. Sumpek pikiran, karena sibuk memformulasikan dan mengerjakan segala tetek-bengek perayaan Natal. Itukah yang tertinggal????
Maka wajar, kalau saat ini ada orang yang menganggap Natal hanya sebagai perayaan masa-lalu; tanpa makna, tanpa isi, sekedar berlelah-lelah tanpa hasil.....orang merasakan ruang kosong dalam hatinya, makin melompong. Seolah ada sesuatu yang hilang dengan Natal saat ini???
Padahal, Natal pertama 2000 tahun yang lalu adalah peristiwa monumental dalam sejarah manusia, yang sampai kini membekas dan berkesan di hati banyak orang.
Natal pertama, jauh dari kemeriahan dan segala bentuk aktivisme. Para tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu rata-rata datang dalam kebersahajaan. Mengalami dan menjalani Natal dengan penuh kesederhanaan. Namun Makna Natal pertama tetap abadi dan relevan sampai sekarang.
Apa kuncinya??
Pada kasih dan kepedulian. Ada Yusuf dan Maria yang awalnya sangat bimbang dan ragu. Tapi....akhirnya saling menerima. Mereka memandang apa yang terjadi sebagai bagian dari kehendak Tuhan. Mereka taat, tanpa reserve. Menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan kasih Tuhan.
Pada hati yang dipenuhi rasa takjub akan karya kasih Sang Pencipta, lalu tergerak untuk menyembah. Ada para Majus dan gembala, yang satu menempuh jalan panjang dan sulit, dari Persia ke Betlehem, yang lain hanya perlu berjalan dari padang Efratha ke Kandang. Satu kesamaan : mereka sama-sama “takjub” dengan “Kabar Baik” itu, lalu segera pergi menyembah Sang Bayi Kudus. Mungkin Natal kita berlalu tanpa kesan. Natal satu datang, Natal lain pergi, dan kita tetap merasakan kekosongan makna. Bisa jadi itu petunjuk, bahwa kita sudah terjebak dengan aktivisme Natal. Kita hanya asyik dengan “perayaan Natal”, dan abai dengan “makna”. Kita hanya fokus pada segala persiapan “di luar diri”, dan lalai dengan persiapan “dalam hati”. Maka tidak heran kalau Natal-pun bisa menjadi sesuatu yang hambar.
Di hati banyak orang sebetulnya selalu ada kerinduan untuk peduli dan berbagi kasih dengan sesama. Tinggal, adakah momen yang memicu, dan cara yang memacu? Natal bisa jadi momen untuk itu. Lalu caranya???
Tidak ada cara lain, kita harus kembali ke esensi Natal. Yaitu “KASIH” dan “KEPEDULIAN” kepada sesama, serta hati yang diliputi rasa “takjub” dan kerinduan untuk menyembah Sang Pencipta.
Semoga Natal tahun ini, menjadi kenangan Natal terindah dalam hidup kita. Kiranya NATAL bisa menjadi momen perdamaian. PEACE ON EARTH........
Usulan Kado Natal : Untuk musuhmu, pengampunan; Untuk lawanmu, toleransi; Untuk sahabat, hatimu; Untuk pelanggan, pelayanan; Untuk semua kemurahan; Untuk anak, teladan yang baik; Untuk orang tua, kepedulian; Untuk dirimu, penghargaan..... — JWPColl
Malam Saat Lonceng Berdentang
Posted by admin
on
Rabu, 15 Desember 2010
, under |
komentar (0)
Suatu hari, dahulu kala, sebuah gereja yang mengagumkan berdiri di sebuah bukit yang tinggi di sebuah kota yang besar. Jika dihiasi lampu-lampu untuk sebuah perayaan istimewa, gereja itu dapat dilihat hingga jauh di sekitarnya. Namun demikian ada sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari gereja ini ketimbang keindahannya: legenda yang aneh dan indah tentang loncengnya.
Di sudut gereja itu ada sebuah menara berwarna abu-abu yang tinggi, dan di puncak menara itu, demikian menurut kata orang, ada sebuah rangkaian lonceng yang paling indah di dunia. Tetapi kenyataannya tak ada yang pernah mendengar lonceng-lonceng ini selama bertahun-tahun. Bahkan tidak juga pada hari Natal. Karena merupakan suatu adat pada Malam Natal bagi semua orang untuk datang ke gereja membawa persembahan mereka bagi bayi Kristus. Dan ada masanya di mana sebuah persembahan yang sangat tidak biasa yang diletakkan di altar akan menimbulkan alunan musik yang indah dari lonceng-lonceng yang ada jauh di puncak menara. Ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang membuatnya berayun. Tetapi akhir-akhir ini tak ada persembahan yang cukup luar biasa yang layak memperoleh dentangan lonceng-lonceng itu.
Sekarang beberapa kilometer dari kota, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Pedro dengan adik laki-lakinya. Mereka hanya tahu sangat sedikit tentang lonceng-lonceng Natal itu, tetapi mereka pernah mendengar mengenai kebaktian di gereja itu pada Malam Natal dan mereka memutuskan untuk pergi melihat perayaan yang indah itu.
Sehari sebelum Natal sungguh menggigit dinginnya, dengan salju putih yang telah mengeras di tanah. Pedro dan adiknya berangkat awal di siang harinya, dan meskipun cuaca dingin mereka mencapai pinggiran kota saat senja. Mereka baru saja akan memasuki salah satu pintu gerbang yang besar ketika Pedro melihat sesuatu berwarna gelap di salju di dekat jalan mereka.
Itu adalah seorang wanita yang malang, yang terjatuh tepat di luar pintu kota, terlalu sakit dan lelah untuk masuk ke kota di mana ia dapat memperoleh tempat berteduh. Pedro berusaha membangunkannya, tetapi ia hampir tak sadarkan diri. "Tak ada gunanya, Dik. Kau harus meneruskan seorang diri."
Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak. Amsal 16:16
"Tanpamu?" teriak adiknya. Pedro mengangguk perlahan. "Wanita ini akan mati kedinginan jika tak ada yang merawatnya. Semua orang mungkin sudah pergi ke gereja saat ini, tetapi kalau kamu pulang pastikan bahwa kau membawa seseorang untuk membantunya. Saya akan tinggal di sini dan berusaha menjaganya agar tidak membeku, dan mungkin menyuruhnya memakan roti yang ada di saku saya."
"Tapi saya tak dapat meninggalkanmu!" adiknya memekik. "Cukup salah satu dari kita yang tidak menghadiri kebaktian," kata Pedro. "Kamu harus melihat dan mendengar segala sesuatunya dua kali, sekali untukmu dan sekali untukku. Saya yakin bayi Kristus tahu betapa saya ingin menyembahNya. Dan jika kamu memperoleh kesempatan, bawalah potongan perakku ini dan saat tak seorangpun melihat, taruhlah sebagai persembahanku."
Demikianlah ia menyuruh adiknya cepat-cepat pergi ke kota, dan mengejapkan mata dengan susah payah untuk menahan air mata kekecewaannya.
Gereja yang besar tersebut sungguh indah malam itu; sebelumnya belum pernah terlihat seindah itu. Ketika organ mulai dimainkan dan ribuan orang bernyanyi, dinding-dinding gereja bergetar oleh suaranya.
Pada akhir kebaktian tibalah saatnya untuk berbaris guna meletakkan persembahan di altar. Ada yang membawa permata, ada yang membawa keranjang yang berat berisi emas. Seorang penulis terkenal meletakkan sebuah buku yang telah ditulisnya selama bertahun-tahun. Dan yang terakhir, berjalanlah sang Raja negeri itu, sama seperti yang lain berharap ia layak untuk memperoleh dentangan lonceng Natal.
Gumaman yang keras terdengar di seluruh ruang gereja ketika sang Raja melepaskan dari kepalanya mahkota kerajaannya, yang dipenuhi batu-batu berharga, dan meletakkannya di altar. "Tentunya," semua berkata, "kita akan mendengar lonceng-lonceng itu sekarang!" Tetapi hanya hembusan angin dingin yang terdengar di menara.
Barisan orang sudah habis, dan paduan suara memulai lagu penutup. Tiba-tiba saja, pemain organ berhenti bermain. Nyanyian berhenti. Tak terdengar suara sedikitpun dari siapa saja di dalam gereja. Sementara semua orang memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan, terdengarlah dengan perlahan-tetapi amat jelas-suara lonceng-lonceng di menara itu. Kedengaran sangat jauh tetapi sangat jelas, alunan musik itu terdengar jauh lebih manis daripada suara apapun yang pernah mereka dengar.
Maka mereka semuapun berdiri bersama dan melihat ke altar untuk menyaksikan persembahan besar apakah yang membangunkan lonceng yang telah berdiam sekian lama. Tetapi yang mereka lihat hanyalah sosok kekanak-kanakan adik laki-laki Pedro, yang telah perlahan-lahan merangkak di sepanjang lorong kursi ketika tak seorangpun memperhatikan, dan meletakkan potongan kecil perak milik Pedro di altar.
Chicken Soup for the Christian Soul
Kisah Menarik Di Malam Natal
Posted by admin
on , under |
komentar (0)
Pada tahun 1914 ada sebuah kisah menarik yang terjadi di malam Natal. Saat itu terjadi peperangan antara Inggris, Jerman dan Perancis. Di malam Natal seperti itu, pastilah para prajurit ingin berada di rumah, berkumpul dengan keluarga, menyiapkan kado-kado, bernyanyi dan menikmati sukacita serta hidangan yang enak. Tapi kali ini mereka berada jauh dari rumah, jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Salju yang turun menambah dinginnya udara malam dan dinginnya hati mereka. Perut lapar, pakaian yang basah, dinginnya udara dan tempat tinggal yang becek serta ketidaknyamanan suasana perang merupakan satu harmoni yang semakin menghilangkan semangat untuk mengangkat senjata. Ada satu kerinduan untuk duduk bersama keluarga didepan perapian sambil mengunyah kue-kue yang lezat.
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Lukas 2:14
Seorang prajurit yang tertembak merintih menahan sakit, sementara yang lain menggigil kedinginan. Pimpinan mereka pun malam itu tidak seperti biasanya. Ia kelihatan sangat bersedih, menangis teringat akan anak dan isterinya. Entah kapan mereka akan pulang dan berada ditengah orang-orang yang mereka kasihi. Mereka semua diam membisu selama beberapa jam, tetapi tiba-tiba nampak cahaya kecil yang bergerak-gerak dari arah pasukan Jerman. Ternyata ada prajurit Jerman yang membuat pohon Natal kecil dan mengangkatnya keatas agar kelihatan. Ia melakukan itu sambil mengalunkan lagu "Stille Nacht, Heilige Nacht" atau lagu "Malam Kudus". Alunan lembut lagu itu membuat hati para prajurit pilu karena mereka teringat suasana Natal ditengah-tengah keluarga. Prajurit Jerman yang menyanyikan lagu itu ternyata adalah seorang penyanyi tenor opera terkenal sebelum dikirim ke medan perang. Sambil menyanyi, prajurit itu berdiri dari tempat persembunyiannnya sehingga musuh dapat melihatnya. Ia ingin menyampaikan makna Natal yang sesungguhnya, yaitu berbagi kasih dan damai. Prajurit tersebut bersedia mengorbankan nyawanya, ia bersedia ditembak oleh musuh karena mereka pasti bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi, apakah yang terjadi?
Satu per satu dari masing-masing pasukan keluar dari persembunyian dan ikut menyanyi. Mereka berkumpul bersama dan air mata tidak tertahankan. Seorang prajurit Inggris musuh bebuyutan Jerman malah mengiringi nyanyian tersebut dengan sebuah alat musik tiup yang dibawanya. Tidak ada lagi lawan, tidak ada peperangan, tidak ada benci, yang ada hanya kedamaian didalam kebersamaan. Mereka semua bersama-sama menyanyi dalam bahasa mereka masing-masing, dilanjutkan lagi dengan lagu "Hai Mari Berhimpun". Mereka yang tadinya adalah musuh yang berusaha saling membunuh, kini merasakan aliran damai Natal. Mereka bersama-sama menyembah dan bersyukur atas kelahiran Juruselamat.
Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Efesus 2:17-18
Saat ini, jika masih ada luka, kekecewaan, dan kebencian terhadap seseorang, biarkan kuasa Yesus Sang Juruselamat menyembuhkan serta menggantinya dengan damaiNya!
DOA: Ya Tuhan Yesus, pulihkanlah hatiku dari segala luka, kekecewaan dan kebencian. Penuhilah hatiku dengan damaiMu dan jadikan aku baru. Dalam Nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Kata-kata bijak: Kelahiran Yesus mengubah kebencian menjadi kasih!
Ternyata Ayah itu MENAKJUBKAN! !!!
Posted by admin
on , under |
komentar (0)
Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.
Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.
Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.
Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup Ayah benar-benar senang membantu seseorang... tapi ia sukar meminta bantuan.
Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..." tidak terlalu mengecewakan" ^_~
Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.
Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.
Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.
AYAH ITU MURAH HATI.....
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.... .
Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....
Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....
Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu" Ketika ia ingin berkata ,,tidak"
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.
Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya....
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
Ayah tidak suka meneteskan air mata ....
ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)
ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster... tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.
Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendaptkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"
Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,,jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"
Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau
gantikan posisi Ayah di hatimu"
Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....
Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....
Dan terpenting adalah...
Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.
Ketulusan seorang Ibu
Posted by admin
on , under |
komentar (0)
Pada Saat Tuhan Menciptakan Para Ibu Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.
Kini giliran diciptakan para ibu.
Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut: "Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini?"
Dan Tuhan menjawab pelan: "Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! ---
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang tangan....? tsk tsk tsk" --- "Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik...." balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
"Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran.
Tuhan mengangguk- angguk. "Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya: "Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: "Saya mengerti dan saya sayang padamu". Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
"Tuhan", kata malaikat itu lagi, "Istirahatlah"
"Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....
Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
"Terlalu lunak", katanya memberi komentar.
"Tapi kuat", kata Tuhan bersemangat.
"Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung,pikul dan derita.
"Apakah ia dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
"Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi", kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh, ada kebocoran disini"
"Itu bukan kebocoran", kata Tuhan. "Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata...., airmata...."
Tentang Nasionalisme Indonesia
Posted by admin
on
Jumat, 19 November 2010
, under |
komentar (0)
DALAM konteks gerak finansial kapital dalam skala mondial, atau dalam istilah sekarang lebih dikenal sebagai globalisasi, pembicaraan ten-tang masalah nasionalisme seakan sudah menjadi barang usang.
Mungkin tepat seperti dilukiskan ilmuwan politik yang mengatakan one's imagined community is another one's prison dalam kritiknya terhadap gagasan masyhur Benedict Anderson imagined community yang gemar dirujuk banyak intelektual Indonesia kini. Dan pernyataan itu tampaknya menjadi amat relevan dalam kaitan dengan meningkatnya gerakan separatisme dan konflik etnis di Indonesia kini.
Kenyataan lain menunjukkan, untuk bertahan hidup, para TKI tampaknya tidak terlalu pusing tentang makna nasionalisme seperti digembar-gemborkan para penguasa negeri ini. Tidak dapat dimungkiri, bila hanya sekadar dilihat kondisi obyektif pergaulan sosial manusia dan perkembangan ekonomi abad ke-21, gagasan nasionalisme menjadi suatu pokok masalah yang sering kontradiktif. Dalam renungan tentang kemerdekaan Republik Indonesia kini, tulisan ini mencoba memahami relevansi gagasan nasionalisme dalam kaitan dengan aspek-aspek kesejarahan orang Indonesia.
Mungkin tepat seperti dilukiskan ilmuwan politik yang mengatakan one's imagined community is another one's prison dalam kritiknya terhadap gagasan masyhur Benedict Anderson imagined community yang gemar dirujuk banyak intelektual Indonesia kini. Dan pernyataan itu tampaknya menjadi amat relevan dalam kaitan dengan meningkatnya gerakan separatisme dan konflik etnis di Indonesia kini.
Kenyataan lain menunjukkan, untuk bertahan hidup, para TKI tampaknya tidak terlalu pusing tentang makna nasionalisme seperti digembar-gemborkan para penguasa negeri ini. Tidak dapat dimungkiri, bila hanya sekadar dilihat kondisi obyektif pergaulan sosial manusia dan perkembangan ekonomi abad ke-21, gagasan nasionalisme menjadi suatu pokok masalah yang sering kontradiktif. Dalam renungan tentang kemerdekaan Republik Indonesia kini, tulisan ini mencoba memahami relevansi gagasan nasionalisme dalam kaitan dengan aspek-aspek kesejarahan orang Indonesia.











