Mendampingi Anak Setelah Bencana
Rabu, 17 November 2010
, Posted by admin at 17.11.10
REAKSI ANAK SETELAH MENGALAMI BENCANA
Bencana berdampak pada orang dewasa juga anakanak.
Meskipun terkadang anak tidak menunjukkannya secara langsung. Berikut ini adalah reaksi yang umumnya muncul pada anak dan hal yang perlu diperhatikan orangtua/orang dewasa lain.
Usia batita (0-2 tahun)
Perhatikan: Anak belum dapat menjelaskan kejadian atau perasaan mereka. Namun anak dapat mengingat peristiwa yang dialami melalui apa yang dilihat,
suara, maupun bau.
Reaksi: lebih rewel, mudah menangis, ingin terus digendong, tidak ingin berpisah dari orangtuanya.
Usia Prasekolah (2-5 tahun)
Perhatikan: Anak mungkin karena belum bisa menjaga dirinya, merasa tidak aman dan takut sekali ditinggalkan sehingga perlu diyakinkan bahwa ia akan selalu diperhatikan dan dijaga, bermain dengan tema-tema permainan yang berhubungan dengan kejadian bencana secara berulang-ulang, belum paham kalau orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali lagi.
Reaksi: takut berpisah dengan orangtua, menangis dan merengek, mimpi buruk dan ketakutan, perilaku regresi/mundur, misalnya kembali mengompol, mengisap jari, menggigit kuku, dll merasa tidak berdaya
Usia sekolah (6-12 tahun)
Perhatikan: Anak sudah paham bahwa yang meninggal tidak dapat kembali lagi, teringat akan detail dari bencana dan akan membicarakannya terus-menerus atau tidak mau membicarakannya sama sekali, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab bencana.
Reaksi: Tidak mau bergaul dengan orang lain atau justru mengganggu teman dan lingkungan, sulit berkonsentrasi, mudah marah-marahnya dapat meledak-ledak, mudah tersinggung, mudah menangis, sangat takut pada benda yang tidak menakutkan, seperti:air, suara keras, petir, terlalu banyak tidur atau susah tidur, mimpi buruk.
Bencana berdampak pada orang dewasa juga anakanak.
Meskipun terkadang anak tidak menunjukkannya secara langsung. Berikut ini adalah reaksi yang umumnya muncul pada anak dan hal yang perlu diperhatikan orangtua/orang dewasa lain.
Usia batita (0-2 tahun)
Perhatikan: Anak belum dapat menjelaskan kejadian atau perasaan mereka. Namun anak dapat mengingat peristiwa yang dialami melalui apa yang dilihat,
suara, maupun bau.
Reaksi: lebih rewel, mudah menangis, ingin terus digendong, tidak ingin berpisah dari orangtuanya.
Usia Prasekolah (2-5 tahun)
Perhatikan: Anak mungkin karena belum bisa menjaga dirinya, merasa tidak aman dan takut sekali ditinggalkan sehingga perlu diyakinkan bahwa ia akan selalu diperhatikan dan dijaga, bermain dengan tema-tema permainan yang berhubungan dengan kejadian bencana secara berulang-ulang, belum paham kalau orang yang sudah meninggal tidak bisa kembali lagi.
Reaksi: takut berpisah dengan orangtua, menangis dan merengek, mimpi buruk dan ketakutan, perilaku regresi/mundur, misalnya kembali mengompol, mengisap jari, menggigit kuku, dll merasa tidak berdaya
Usia sekolah (6-12 tahun)
Perhatikan: Anak sudah paham bahwa yang meninggal tidak dapat kembali lagi, teringat akan detail dari bencana dan akan membicarakannya terus-menerus atau tidak mau membicarakannya sama sekali, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab bencana.
Reaksi: Tidak mau bergaul dengan orang lain atau justru mengganggu teman dan lingkungan, sulit berkonsentrasi, mudah marah-marahnya dapat meledak-ledak, mudah tersinggung, mudah menangis, sangat takut pada benda yang tidak menakutkan, seperti:air, suara keras, petir, terlalu banyak tidur atau susah tidur, mimpi buruk.
Reaksi-reaksi yang dialami anak tersebut WAJAR setelah anak mengalami bencana. Anak memiliki kemampuan alamiah seperti bermain dan bergembira.?Namun kemampuan alamiah anak tidaklah cukup.
Anak perlu dukungan orang-orang sekitar, terutama orang dewasa, untuk memulihkan rasa aman dan keteraturan. Orang dewasa dapat membuat kegiatan yang rutin dan teratur untuk anak. Pada bayi, mereka akan lebih tenang bila orangtua mereka tenang. Sebaliknya, mereka lebih rewel dan sulit ditenangkan bila orangtua panik.
Remaja (11-18 tahun)
Perhatikan: Remaja mungkin mengalami gejolak emosi karena berbagai pengaruh lingkungan, keluarga, sekolah, teman, merasa tidak berdaya/pesimis karena kehilangan orang terdekat (keluarga ataupun teman) Reaksi: Mimpi buruk, menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan tentang kejadian bencana, menjadi
pendiam, tidak terbuka, sedih berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, kehilangan minat dan hobi, memberontak pada figur otoritas (orang dewasa), merasa bersalah terlibat dalam perilaku berbahaya dan melanggar aturan seperti berkelahi, mabuk, memakai narkoba
DUKUNGAN DARI ANDA SANGAT DIPERLUKAN !
Yayasan Pulih
Untuk Pemulihan dari Trauma dan Penguatan Psikososial
Hotline: o21 982-86398, 021 888-181-6860
counseling@pulih.or.id, www.pulih.or.id
Anak perlu dukungan orang-orang sekitar, terutama orang dewasa, untuk memulihkan rasa aman dan keteraturan. Orang dewasa dapat membuat kegiatan yang rutin dan teratur untuk anak. Pada bayi, mereka akan lebih tenang bila orangtua mereka tenang. Sebaliknya, mereka lebih rewel dan sulit ditenangkan bila orangtua panik.
Remaja (11-18 tahun)
Perhatikan: Remaja mungkin mengalami gejolak emosi karena berbagai pengaruh lingkungan, keluarga, sekolah, teman, merasa tidak berdaya/pesimis karena kehilangan orang terdekat (keluarga ataupun teman) Reaksi: Mimpi buruk, menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan tentang kejadian bencana, menjadi
pendiam, tidak terbuka, sedih berkepanjangan, menarik diri dari lingkungan, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, kehilangan minat dan hobi, memberontak pada figur otoritas (orang dewasa), merasa bersalah terlibat dalam perilaku berbahaya dan melanggar aturan seperti berkelahi, mabuk, memakai narkoba
DUKUNGAN DARI ANDA SANGAT DIPERLUKAN !
Yayasan Pulih
Untuk Pemulihan dari Trauma dan Penguatan Psikososial
Hotline: o21 982-86398, 021 888-181-6860
counseling@pulih.or.id, www.pulih.or.id





Currently have 0 komentar: